Segepok Laba dari Bisnis Kok Bulu Entok

Segepok Laba dari Bisnis Kok Bulu Entok JAKARTA. Sejak puluhan tahun silam, Indonesia terkenal sebagai kandang para jago bulu tangkis. Sebut...

Segepok Laba dari Bisnis Kok Bulu Entok

JAKARTA. Sejak puluhan tahun silam, Indonesia terkenal sebagai kandang para jago bulu tangkis. Sebut saja nama Rudi Hartono, Icuk Sugiarto, Susi Susanti, Alan Budikusuma, Harianto Arbi, hingga generasi masa kini seperti Taufik Hidayat dan lain-lain. Mereka adalah segelintir dari segudang pahlawan olahraga tepok alias bulutangkis. Karena banyak jago bulutangkis, tak heran bila olahraga yang satu ini terbilang tetap merakyat hingga kini. Bagi yang jeli, banyaknya penggemar olahraga ini bisa menjadi peluang bisnis. Salah satunya menjalankan usaha pembuatan shuttlecock lias kok. Adalah Rahardjo Wibowo yang mampu memanfaatkan peluang itu. Berawal dari hobi bermain badminton semasa muda, Rahardjo menjajal peruntungannya di bisnis kok. "Dulu, saya memang sempat bermain profesional. Jadi, saya sudah cukup akrab dengan kok," ujarnya. Modal awal Rp 10 juta Ketika mengawali usaha pada awal 2004, modal awal Rahardjo sekitar Rp 10 juta. Ia menggunakan duit segitu untuk membeli bahan baku berupa bulu entok, bulu ayam, gabus, lem, dan benang jahit. Awalnya, Rahardjo hanya mempekerjakan lima orang dengan hasil produksi 25 slop atau 300 unit kok. "Saat itu, omzet masih sedikit, yakni Rp 500.000 per hari," katanya. Tapi, lantaran permintaan terus membanjir, bisnis kok Rahardjo berkembang. Saat ini, pekerjanya sudah sebanyak 15 orang dengan kapasitas produksi menjadi 100 slop per hari. Kini, omzetnya Rp 1 juta sampai Rp 5 juta per hari alias Rp 30 juta hingga Rp 150 juta per bulan. Rahardjo meraup laba bersih 15% - 20% dari total omzet itu. "Mungkin karena masih industri rumahan. Kalau skala besar, mungkin marginnya bisa lebih," jelasnya. Bisnis kok Rahardjo terbilang lancar lantaran ia banyak mengenal klub-klub bulutangkis. Makanya, dalam memasarkan kok, ia langsung menawarkan ke klub-klub tersebut. Agar makin menarik pasar, Rahardjo memakai tiga merek sekaligus, yakni merek 128, Mahkota, dan Sparta. Kini, Produk-produknya telah tersebar ke Jakarta, Bandung, beberapa kota di Jawa Tengah, Kalimantan, dan Sumatra. "Soal kualitas, saya jamin setara dengan kok Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI). Kan saya pernah memasok untuk turnamen di Bandung," ujarnya. Rahardjo menjual kok buatannya dengan harga Rp 10.000 - Rp 50.000 per slop. "Lebih banyak permintaan kok seharga Rp 30.000 atau Rp 40.000," katanya. Ia mengakui, pemain di bisnis ini sudah banyak. Tapi, kunci sukses di bisnis ini adalah strategi pemasaran yang pas. Sebab, kualitas kok produksi para perajin mirip. Maklum, perajinnya itu-itu saja. Jika Anda tertarik mengikuti langkah Rahardjo, siapkanlah modal minimal Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. "Di bisnis ini, modal kecil bisa jalan asal perputarannya cepat. Itu berarti, harus sudah ada pasar yang mau menyerap," papar Rahardjo. Dengan modal segitu, Rahardjo memperkirakan seorang pemain bisnis yang baru terjun bisa menghasilkan sekitar 250 slop untuk sekali produksi. Agar pemasaran kok lancar, kualitas kok harus baik. "Meski pemain banyak, tapi jika kualitas bagus dan harga bersaing, pasti pasar mau," beber Rahardjo. Jika sudah tertarik, bergegaslah. Sebab, bila dilihat dari segi omzet, bisnis industri rumahan ini terbilang menggiurkan. Apalagi, pasar olahraga tepok bulu ini sangat luas.(Kontan.co.id, 31 Mei 2009)

Post a Comment

emo-but-icon

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item