Membalap Mobil Mendulang Rupiah

Membalap Mobil Mendulang Rupiah MENYALURKAN hobi bukan lagi hanya menjadi sarana untuk sejenak melepas penat di sela pekerjaan kantor. Bukan...

Membalap Mobil Mendulang Rupiah

MENYALURKAN hobi bukan lagi hanya menjadi sarana untuk sejenak melepas penat di sela pekerjaan kantor. Bukan rahasia lagi bahwa hobi bisa mendatangkan uang bagi mereka yang kreatif. Sudah banyak orang yang mencicipi duit berkat hobi. Salah satunya adalah Antonius Hendrarsono. Sedari kecil pemilik usaha SCX Raze Zone ini sangat gandrung bermain mobil-mobilan, khususnya memainkan berbagai mobil balap. Ia rela merogoh kocek demi hobinya tersebut. Lama-kelamaan, lelaki lulusan IPB ini punya ide untuk membuka usaha yang masih ada hubungannya dengan mobil balap. Memang, usaha SCX Race Zone berbeda dengan permainan mobil balap yang selama ini kita kenal. Kalau Anda masih ingat, dulu sempat booming permainan mobil balap model Tamiya maupun balapan mobil-mobilan ber-remote control. Nah, Antonius memperkenalkan jenis permainan terbaru, yakni arena permainan balapan mobil listrik (slot car). Jadi, mobil balap akan melintas pada slot track yang di bawahnya mengalir listrik ke semacam serabut tembaga yang disebut braid. Supaya mobil dapat melaju dengan kecepatan penuh dan tetap berada pada lintasan, pemain harus bisa mengendalikannya lewat remote kontrol. Mengendalikan slot car dengan remote control seolah membawa pemainnya berlaga di arena balap yang sesungguhnya. Kalau salah mengendalikan remote control, mobil balap terpental keluar dari lintasan. Trek lintasan yang tersedia cukup beragam dan bisa disetel sesuai keinginan. Ada yang lintasan lurus, berbelok-belok, dan ada juga perpaduan antara lintasan lurus dan berbelok-belok. “Meski dialiri listrik, permainan ini aman. Para pemain tidak perlu takut kesetrum saat bermain. Aliran listriknya hanya 15 volt. Justru kebanyakan anak-anak yang memainkannya,” ujar Antonius yang memilih lokasi arena balapan di Botani Square, Bogor. Dia mulai menjalankan bisnis ini sejak Desember 2008 lalu. “Saya bosan jadi pegawai, saya berpikir membuka bisnis yang sama sekali belum ada pemainnya. Kebetulan saya hobi bermain mobil balap, tapi ini permainannya berbeda, lo,” beber Antonius sambil berpromosi. Meski baru berusia tiga bulan, peminat mainan Antonius bejibun. Makanya, ia menyediakan sekitar empat trek yang siap ia sewakan. Saat hari kerja, memang hanya dua trek yang banyak disewa. Namun di akhir pekan, keempat trek tersebut akan fully booked. Setiap lima menit permainan, SCX Race Zone mengenakan biaya sewa sebesar Rp 2.500. Menurut Antonius, setiap orang bermain minimal menghabiskan uang sebesar Rp 10.000. Itu artinya, menghabiskan waktu sekitar dua puluh menit saja. Tak heran, dalam sehari SCX bisa mengalirkan duit minimal sebesar Rp 750.000, berasal dari penjualan 300-400 tiket. Saat akhir pekan atau liburan, arena balapan ini bisa menghasilkan uang Rp 1 juta sehari karena tiket yang laku antara 600-700 lembar. Itu baru pendapatan dari sewa, belum lagi pendapatan hasil penjualan mobil. Oh, iya, Antonius juga berjualan slot car buatan Spanyol. Harga satu unit mobil mainan antara Rp 350.000 hingga Rp 650.000. Dibandingkan dengan slot car buatan Amerika Serikat (AS), mobil balap buatan Spanyol lebih murah. Satu mobil made in AS bisa seharga Rp 1 juta. “Peminatnya sangat ramai, mungkin karena sampai sekarang belum punya saingan,” klaim Antonius. Ia menyewakan 10 mobil balap mainan yang mirip dengan aslinya, ala ajang balapan sungguhan populer seperti F1, GT, Nascar, DTM, serta mobil-mobil khas reli. Lantaran merasa keuntungannya cukup besar, Antonius mulai berani menawarkan pola kemitraan. Hanya dengan Rp 35 juta, mitra yang memenuhi syarat bisa menjalankan bisnis balap mobil mainan ini. Uang tersebut sudah mencakup pengadaan lintasan sepanjang 15 m-17 m, lengkap dengan 10 unit mobil balap. Ternyata, sambutan masyarakat cukup besar. Sudah ada beberapa calon mitra yang menyatakan tertarik untuk menjalankan bisnis balap mobil listrik ini. Namun, Antonius tidak gegabah langsung menyetujuinya. Ada beberapa aspek yang harus calon mitra penuhi. Yang paling utama adalah lokasinya ramai dan daya beli masyarakatnya cukup tinggi. “Keberhasilan usaha ini, 60% ditentukan oleh lokasinya yang strategis,” kata Antonius. Menurut dia, apabila lokasi berada di mal yang ramai tapi daya beli pengunjung lemah, peluang meraup keuntungan lebih kecil. “Peluangnya semakin besar di tempat yang pengunjungnya tidak terlalu ramai, tapi daya beli pengunjungnya tinggi,” lanjut Antonius. Makanya, lelaki yang berniat membuka gerai di Pondok Indah Mal (PIM) dan Permata Hijau, Jakarta Selatan, ini sangat ketat dalam mengecek lokasi calon mitranya. Beberapa mitra yang tengah menanti persetujuannya berada di Surabaya, Solo, dan Kalimantan. Sejauh ini baru ada satu mitra yang menjalin kerjasama dengannya, yakni SCX Race Zone yang berlokasi di Bogor Trade Mall (BTM). Meski baru dua pekan, sang mitra Rahman Suherman, mengaku bisa mengantongi pendapatan Rp 200.000 saban hari kerja. Saat musim liburan, pendapatan per hari bisa mencapai sekitar Rp 500.000. Asal tahu saja, selain merogoh kocek Rp 35 juta untuk membeli trek dan mobil mainan, itu sudah termasuk fee yang dibayarkan Rahman sebesar Rp 350.000 agar boleh memakai merek SCX Race Zone. Menurut Rahman, kendati sama-sama di Bogor, ia membidik segmen masyarakat yang berbeda. “Di Botani Square, segmennya menengah ke atas. Sedangkan di BTM, masyarakatnya golongan menengah ke bawah. Tapi volume pengunjung ke kami sangat ramai,” papar Rahman. Wuss...! (Kontan.co.id, 09 Mei 2009)

Post a Comment

emo-but-icon

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item