Entrepreneur Sukses ala Kiai

Entrepreneur Sukses ala Kiai Sumber: BatamPos, November 2009 Judul: Entrepreneur Organik (Rahasia Sukses K.H Fuad Affandi bersama Pesantre...

Entrepreneur Sukses ala Kiai

Sumber: BatamPos, November 2009
Judul: Entrepreneur Organik (Rahasia Sukses K.H Fuad Affandi bersama Pesantren dan Tarekat ”Sayuriah”-nya).
Peresensi: Muhammad Arifin Hakim*
Penulis: Faiz Manshur
Penerbit: Nuansa Cendekia (Anggota IKAPI) September
Cetakan: Edisi Pertama 2009
Di tengah-tengah degradasi mentalitas dan moralitas kehidupan bangsa ini,  masalah ekonomi adalah sesuatu yang paling mendasar diselesaikan. Kita semua menyadari hal tersebut. Sayangnya tak banyak dari kita yang bisa berbuat banyak, terlebih ketika persoalan mendasar ini menyangkut ribuan, bahkan jutaan manusia.Tetapi sesulit dan serumit apapun, kehidupan selalu memberikan jalan bagi manusia untuk keluar dari kemelut. Membaca buku ini, setidaknya saya melihat ada tiga masalah utama sekaligus tiga solusi jitu bagaimana sebuah terobosan untuk menegakkan ekonomi rakyat, terutama pada kaum mayoritas, yakni petani yang mandiri, berdaya dan memiliki kehidupan yang beradab. Kiprah perjuangan Fuad Affandi, sebagaimana diulas dalam buku ini terasa sangat fenomenal, unik dan telah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia toh masih menyimpan aset berupa manusia tangguh.
Tiga masalah itu ialah, kultur agraris, situasi modern globalisasi dan paradigma hidup. Pada konteks kehidupan petani agraris, ada semacam kenyataan bahwa alam subur memang cukup membuai kehidupan masyarakat petani,-termasuk anak keturunannya yang berada di kota,- sebagai manusia-manusia yang cenderung kurang ulet.
Alam Indonesia yang begitu memanjakan kehidupan tidak disyukuri sehingga kita semua terlena; tidak mau belajar sungguh-sungguh, gemar hasil instan dan mengabaikan proses, kurang sabaran serta kurang memiliki pandangan hidup yang luas.
Masalah kultur yang belum tuntas diselesaikan ini kemudian menjadi lebih parah manakala modernisasi dalam bentuk globalisasi (baca penjajahan ekonomi kapitalisme global) hadir di Indonesia. Ketidakmampuan manusia Indonesia dalam merespons globalisasi mengakibatkan degradasi mental kian rendah, etos kewirausahaan tak banyak berkembang dan akibatnya jutaan manusia Indonesia memilih menjadi kuli. Lalu tidak heran manakala bangsa ini lantas disebut sebagai bangsa kuli, bahkan bangsa budak.
Dua masalah mendasar inilah yang kemudian membuat orientasi kehidupan manusia Indonesia lemah, dan terus dilemahkan oleh struktur yang tidak adil. Akibatnya mutu kehidupan dalam berbagai bidang, seni, politik, agama, mentalitas, pergaulan sosial, atau kalau mau ringkas dibingkai kebudayaan memunculkan budaya rendah.
Maka, dengan kejelian atas persoalan kontemporer itulah sosok bernama Fuad Affandi menjawab ketiga hal tersebut dengan caranya sendiri, yakni menegakkan etos kerja dan ilmu pengetahuan untuk mengusir kemalasan dan kebodohan, merespons modernisasi sebagai sunnatullah dan berpikir kritis terhadap setiap pergolakan zaman.
Bertani menjadi pilihan perjuangan Fuad karena sektor ini memiliki alasan yang paling kuat, antara lain, mayoritas penduduk negeri ini agraris, hasil bumi yang selalu dibutuhkan dan secara turun temurun ilmu pengetahuan dan pengelolaan pertanian (sekalipun tradisional) sudah dimiliki rakyat. Basis inilah yang menjadi landasan gerak perjuangan sang wirausahawan organik di kalangan rakyat jelata.
Selain sebagai pemimpin kaum tani, Fuad juga menyadarkan gerak perjuangan pada sektor agama dengan gerbong Pesantren Al-Ittifaqnya. Antara pertanian dan agama kemudian menjadi lahan garapan yang sangat populis, kemudian atas usaha kerasnya selama berpuluh-puluh tahun itu menghasilkan karya besar bernama kemandirian, kemajuan, dan kesejahteraan kaum tani.
Entrepreneur Organik menceritakan kisah perjuangan Fuad Affandi dengan caranya yang khas. Melalui riset yang mendalam dan ditulis dengan gaya cerdas bertutur membuat kita semua mendapatkan sesuatu yang sangat bermanfaat. Fuad Affandi yang selama ini diam dari gegap gempita media massa tiba-tiba muncul menyeruak; menyadarkan kita semua tentang arti keteguhan berjuang, bekerja keras dan mencintai ilmu pengetahuan.
Lebih dari itu Fuad juga sedang mencambuk para pejabat dan kaum akademisi Indonesia yang selama ini hanya bicara tetapi tak banyak kontribusi menyelesaikan urusan ekonomi rakyat. Fuad dengan gaya khas lokalnya telah menegaskan bahwa kemandirian bukan hanya dalam hal ekonomi, tetapi juga cara berpikir dan bertindak. Itulah sebabnya tidak berlebihan manakala Profesor Sri Edi Swasono menyebut Fuad Affandi sebagai local genius, seorang manusia genius yang mampu menjawab problematika kehidupan masyarakat.
Pesona Fuad Affandi, seorang ulama dari kampung Ciburial, Alamendah, Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung itu pada akhirnya bukan saja membuktikan bahwa seorang agamawan hanya bisa “ngamen” menjual ayat-ayat Tuhan di podium dan layar kaca, melainkan juga memang benar-benar menegakkan amanat Tuhan untuk menjadikan kehidupan lebih beradab melalui amal, praktik dan emansipasi yang membebaskan rakyat dari belenggu ketidakadilan ekonomi pasar dan budaya yang jumud.
Sebuah buku yang sangat rugi bila tidak dibaca. Sekalipun kita bukan petani, tetapi dengan membaca kisah perjuangan Fuad Affandi tersebut kita akan menyadari bahwa ternyata sesulit apapun kenyataan hidup pada diri, keluarga dan masyarakat sekitar kita tetap bisa diselesaikan. *Alumni IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tinggal di Cirebon (ResensiBuku.com)

Sumber: BatamPos, November 2009Judul: Entrepreneur Organik (Rahasia Sukses K.H Fuad Affandi bersama Pesantren dan Tarekat ”Sayuriah”-nya).Peresensi: Muhammad Arifin Hakim*Penulis: Faiz ManshurPenerbit: Nuansa Cendekia (Anggota IKAPI) SeptemberCetakan: Edisi Pertama 2009 Di tengah-tengah degradasi mentalitas dan moralitas kehidupan bangsa ini,  masalah ekonomi adalah sesuatu yang paling mendasar diselesaikan. Kita semua menyadari hal tersebut. Sayangnya tak banyak dari kita yang bisa berbuat banyak, terlebih ketika persoalan mendasar ini menyangkut ribuan, bahkan jutaan manusia.Tetapi sesulit dan serumit apapun, kehidupan selalu memberikan jalan bagi manusia untuk keluar dari kemelut. Membaca buku ini, setidaknya saya melihat ada tiga masalah utama sekaligus tiga solusi jitu bagaimana sebuah terobosan untuk menegakkan ekonomi rakyat, terutama pada kaum mayoritas, yakni petani yang mandiri, berdaya dan memiliki kehidupan yang beradab. Kiprah perjuangan Fuad Affandi, sebagaimana diulas dalam buku ini terasa sangat fenomenal, unik dan telah menunjukkan bahwa bangsa Indonesia toh masih menyimpan aset berupa manusia tangguh. Tiga masalah itu ialah, kultur agraris, situasi modern globalisasi dan paradigma hidup. Pada konteks kehidupan petani agraris, ada semacam kenyataan bahwa alam subur memang cukup membuai kehidupan masyarakat petani,-termasuk anak keturunannya yang berada di kota,- sebagai manusia-manusia yang cenderung kurang ulet. Alam Indonesia yang begitu memanjakan kehidupan tidak disyukuri sehingga kita semua terlena; tidak mau belajar sungguh-sungguh, gemar hasil instan dan mengabaikan proses, kurang sabaran serta kurang memiliki pandangan hidup yang luas. Masalah kultur yang belum tuntas diselesaikan ini kemudian menjadi lebih parah manakala modernisasi dalam bentuk globalisasi (baca penjajahan ekonomi kapitalisme global) hadir di Indonesia. Ketidakmampuan manusia Indonesia dalam merespons globalisasi mengakibatkan degradasi mental kian rendah, etos kewirausahaan tak banyak berkembang dan akibatnya jutaan manusia Indonesia memilih menjadi kuli. Lalu tidak heran manakala bangsa ini lantas disebut sebagai bangsa kuli, bahkan bangsa budak. Dua masalah mendasar inilah yang kemudian membuat orientasi kehidupan manusia Indonesia lemah, dan terus dilemahkan oleh struktur yang tidak adil. Akibatnya mutu kehidupan dalam berbagai bidang, seni, politik, agama, mentalitas, pergaulan sosial, atau kalau mau ringkas dibingkai kebudayaan memunculkan budaya rendah. Maka, dengan kejelian atas persoalan kontemporer itulah sosok bernama Fuad Affandi menjawab ketiga hal tersebut dengan caranya sendiri, yakni menegakkan etos kerja dan ilmu pengetahuan untuk mengusir kemalasan dan kebodohan, merespons modernisasi sebagai sunnatullah dan berpikir kritis terhadap setiap pergolakan zaman. Bertani menjadi pilihan perjuangan Fuad karena sektor ini memiliki alasan yang paling kuat, antara lain, mayoritas penduduk negeri ini agraris, hasil bumi yang selalu dibutuhkan dan secara turun temurun ilmu pengetahuan dan pengelolaan pertanian (sekalipun tradisional) sudah dimiliki rakyat. Basis inilah yang menjadi landasan gerak perjuangan sang wirausahawan organik di kalangan rakyat jelata. Selain sebagai pemimpin kaum tani, Fuad juga menyadarkan gerak perjuangan pada sektor agama dengan gerbong Pesantren Al-Ittifaqnya. Antara pertanian dan agama kemudian menjadi lahan garapan yang sangat populis, kemudian atas usaha kerasnya selama berpuluh-puluh tahun itu menghasilkan karya besar bernama kemandirian, kemajuan, dan kesejahteraan kaum tani. Entrepreneur Organik menceritakan kisah perjuangan Fuad Affandi dengan caranya yang khas. Melalui riset yang mendalam dan ditulis dengan gaya cerdas bertutur membuat kita semua mendapatkan sesuatu yang sangat bermanfaat. Fuad Affandi yang selama ini diam dari gegap gempita media massa tiba-tiba muncul menyeruak; menyadarkan kita semua tentang arti keteguhan berjuang, bekerja keras dan mencintai ilmu pengetahuan. Lebih dari itu Fuad juga sedang mencambuk para pejabat dan kaum akademisi Indonesia yang selama ini hanya bicara tetapi tak banyak kontribusi menyelesaikan urusan ekonomi rakyat. Fuad dengan gaya khas lokalnya telah menegaskan bahwa kemandirian bukan hanya dalam hal ekonomi, tetapi juga cara berpikir dan bertindak. Itulah sebabnya tidak berlebihan manakala Profesor Sri Edi Swasono menyebut Fuad Affandi sebagai local genius, seorang manusia genius yang mampu menjawab problematika kehidupan masyarakat. Pesona Fuad Affandi, seorang ulama dari kampung Ciburial, Alamendah, Kecamatan Rancabali Kabupaten Bandung itu pada akhirnya bukan saja membuktikan bahwa seorang agamawan hanya bisa “ngamen” menjual ayat-ayat Tuhan di podium dan layar kaca, melainkan juga memang benar-benar menegakkan amanat Tuhan untuk menjadikan kehidupan lebih beradab melalui amal, praktik dan emansipasi yang membebaskan rakyat dari belenggu ketidakadilan ekonomi pasar dan budaya yang jumud. Sebuah buku yang sangat rugi bila tidak dibaca. Sekalipun kita bukan petani, tetapi dengan membaca kisah perjuangan Fuad Affandi tersebut kita akan menyadari bahwa ternyata sesulit apapun kenyataan hidup pada diri, keluarga dan masyarakat sekitar kita tetap bisa diselesaikan. *Alumni IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta tinggal di Cirebon (ResensiBuku.com)

Post a Comment

emo-but-icon

Follow Us

Hot in week

Recent

Comments

Side Ads

Text Widget

Connect Us

item